Selamat datang di Negeri Antah-Berantah!
Memasuki lorong-lorong kampung, melewati kedai-kedai tak beraturan, paling banyak kedai kopi di mana warga di negeri ini senang nongkrong di kedai kopi, menghabiskan waktu bersama kolega, tapi lebih banyak membicarakan keburukan-keburukan orang lain sehingga saking asyiknya lupa pada keburukan diri sendiri. Inilah negeri anomali yang tak pernah tersebutkan dalam pelajaran geografi atau setidaknya tertera dalam peta. Tidak! Bahkan peta kuno sekali pun.
Negeri antah-berantah entah berada di mana. Tak seorang peri pun tahu. Setidaknya untuk menjelaskan kepada orang-orang yang mereka jumpai.
"Kami tidak mungkin menorehkan garis-garis koordinat di dalam peta bumi," kata salah seorang peri.
"Benar! Bahkan Tuhan sekali pun tak berhak mengatur kami. Raja kami sudah lebih dari cukup. Tak punya kami waktu yang luang untuk menghadapinya," ujar peri lainnya.
Raja di Negeri Antah-Berantah punya lebih dari 1001 imaji. Ia membayangkan untuk membangun sebuah negeri yang hijau. Dikelilingi oleh tetumbuhan yang hijau. Gedung-gedung bangunan yang dicat dengan warna hijau. Harus selaras dengan warna-warna pohon di sekitarnya. Lalu saat pohon-pohon diterpa kemarau, diterpa oleh musim yang galau, beberapa pohon tak berwarna hijau. Ia lebih berwarna kekuning-kuningan. Raja murka.
"Kenapa pohon-pohon itu tak lagi hijau?" hardik sang raja kepada bawahannya.
"Ampun, Tuanku! Pohon-pohon sekitar banyak yang kita tebang untuk lahan sawit baru," jawab wazir kehutanan.
"Lantas, ke mana semua hasil sawit kita? Minyak saja aku harus pesan dari negeri seberang."
"Ampun, Tuanku! Sawit kita ... sawit kita ..."
"Dicuri, Tuanku!" sela wazir keuangan.
Raja hanya manggut-manggut saja. Matanya melirik wazir keamanan. Paham dirinya sedang dilirik, wazir keamanan beringsut dan mendekat kepada sang raja sambil berbisik. Raja memegang janggutnya yang hanya dua helai saja. Lalu mengangguk pelan setelah mendengar bisikan itu.
Begitulah raja di Antah-Berantah hanya mendengar laporan dari bawahannya tanpa pernah sekali pun melihat langsung ke lokasi. Kelemahan ini dimanfaatkan oleh para wazirnya yang diam-diam mengeruk keuntungan dan memperkaya diri sendiri. Rakyat sudah jenuh menonton dagelan para wazir. Tapi apa daya, setiap kritikan justru dianggap sebagai sebuah pemberontakan. Pernah komplotan penjaga hutan mengirim laporan kerusakan hutan kepada sang raja, tapi laporan itu tak pernah sampai. Malah mereka difitnah oleh para pembisik raja. Karena bisikan itu, perintah untuk menangkap mereka datang langsung dari mulut sang raja.
Di Negeri Antah-Berantah, rakyatnya menderita parah. Rajanya melanglang buana bersama para wazir. Mereka menggelapkan mata sang raja dengan memuaskan batin sang raja dengan kegemaran yang paling ia sukai, berburu.
.png)