Tanggal 29 April 2026 sampai 1 Mei 2026 menjadi hari-hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagi kami, PIC (Person in Charge) dan kepala madrasah dari berbagai daerah di Aceh. Kami mendapatkan undangan khusus dari pihak Acer sebagai pemilik platform Jelajah Ilmu.
Platform Jelajah Ilmu merupakan platform pembelajaran berbasis LMS terbaik dan terlengkap untuk sekolah. Ia menawarkan solusi pendidikan yang komprehensif sehingga dapat memberi manfaat kepada para pelaku pendidikan: kepala sekolah, guru, siswa, bahkan orang tua.
Acara yang dibiayai oleh Acer bertajuk bimtek dan sosialisasi fitur baru platform Jelajah Ilmu. Kegiatan yang positif ini dipusatkan di Sabang selama tiga hari.
Sesuai dengan agenda yang telah disusun oleh panitia, kami berkumpul di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh tepat pukul 07.00 WIB. Wajah-wajah kelelahan para peserta yang datang dari berbagai kabupaten/kota hilang seketika saat PIC dan kepala madrasah berkumpul. Mereka saling menyapa dan memperkenalkan diri masing-masing. Bagi yang sudah kenal terlebih dahulu, ada kegembiraan saat dipertemukan kembali. Kegembiraan yang tulus dan bersahaja.
Sementara itu, panitia mulai membagikan baju seragam kepada PIC. Tiket kapal cepat Express Bahari yang akan kami tumpangi juga dibagikan saat itu juga. Satu per satu nama kami dipanggil. Terlihat senyum yang menawan dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang telah mendapatkan tiket tersebut. Setelah tiket kami kantongi, tak lama kemudian, terdengar suara pengumuman agar penumpang kapal cepat untuk segera memasuki kapal.
Dengan tertib, kami bersama penumpang lain mulai menaiki kapal tersebut. Di dalam kapal, suasana kasak-kusuk dan percakapan-percakapan kerap terdengar. Saya menempati kursi nomor 111. Duduk dengan nyaman dan mulai memejamkan mata saat kapal mulai berlayar. Waktu tidur saya yang terbuang sepanjang perjalanan Lhokseumawe - Banda Aceh terbayar sudah, meskipun belum tuntas.
Taman I Love Sabang
Kami tiba di Pelabuhan Balohan sekira pukul 09.00 WIB. Kapal cepat Express Bahari Ulee Lheue - Balohan berlayar selama satu jam. Sesuai dengan kata orang-orang. Kadang-kadang kurang satu jam. Berbeda dengan kapal lambat yang jaraknya bisa sampai dua jam atau lebih.
Setiba di Balohan, kami sudah ditunggu oleh driver Hi-ace yang disewa oleh Acer. Ada 9 minibus Hi-ace yang disewakan untuk PIC dan kepala madrasah. Saya sendiri mendapat minibus nomor 5 yang di dalamnya semua PIC bapak-bapak.
Sebelum dibawa ke penginapan, terlebih dahulu kami singgah di Taman I Love Sabang. Taman ini seperti taman selamat datang yang seolah hendak menyambut para tamu yang berkunjung ke Sabang. Taman ini terletak searah dengan Pelabuhan Balohan. Rombongan kami berfoto-ria di sini. Memanfaatkan momen yang terbatas ini dengan mengabadikan diri pada tulisan "I Love Sabang" untuk menegaskan bahwa Sabang pernah disinggahinya.
![]() |
| Peserta Bimtek Jelajah Ilmu dari berbagai daerah, baik PIC dan kepala madrasah diabadikan dalam foto bersama dengan latar Taman I Love Sabang. |
Taman I Love Sabang tampak asri dan terawat dengan baik. Pepohonan yang rindang dan hijau semakin memperindah taman kota. Setelah puas berfoto-ria, rombongan PIC dan rombongan kepala madrasah memisahkan diri. Rombongan kami segera menuju ke Freddies Sumur Tiga.
Di Freddies, kami hanya menikmati pemandangan laut yang indah dari atas. Karena siang begitu terik, kami tidak turun ke bawah. Panorama laut berwarna biru kehijauan menyegarkan mata kami yang lelah. Saya kagum dengan keindahan gradasi warna laut biru kehijauan. Kami mengabadikan diri dengan latar belakang laut dari atas.
Beranjak dari Freddies Sumur Tiga, kami menuju ke UKCC atau Pantai Ujung Kareung. Sebagaimana namanya, di bibir pantai ini berserakan karang-karang laut. Keindahan laut di sini juga tak kalah indahnya. Sayangnya, kami pergi di saat yang kurang tepat. Saat matahari sedang terik-teriknya sehingga membuat kami kegerahan. Ibu-ibu mengambil foto dengan berbagai gaya. Sementara itu bapak-bapak hanya duduk-duduk sambil melepaskan lelah.
Karena perut kami mulai keroncongan, kami pun menuju ke tempat makan siang di sebuah kafe. Kami dihidangkan menu kari kambing dan segelas air timun dingin. Kami makan dengan lahapnya dan tak bersisa sedikit pun saking laparnya. Apalagi kami harus menunggu agak lama sebelum makan siang benar-benar terhidang.
Akhirnya, penantian kami untuk melepas penat terwujud juga. Selepas makan siang, rombongan menuju ke Hotel Nagoya Inn, hotel berbintang tiga dengan fasilitas yang standar. Saya menempati kamar lantai dua, yakni kamar 208 bersama dua PIC lainnya. Kami beristirahat dengan nyaman, meskipun ruangan kami kurang dingin. Mungkin cuaca yang lagi panas-panasnya atau mesin pendingin yang sudah lelah memberi angin.
Benteng Anoi Itam
Agenda kami selanjutnya adalah menuju ke Benteng Anoi Itam. Namun, sebelumnya rombongan kami diajak terlebih dahulu untuk menikmati Kota Sabang lewat sudut pandang dari Taman Sabang Merauke. Taman yang terletak persis di depan Kantor Walikota Sabang ini sangat asri dan rindang. Dari sini kita bisa melihat rumah-rumah penduduk dan pemandangan laut yang biru.
Kami menjelajahi taman ini dengan mengabadikan berbagai momen yang menarik. Tak lengkap rasanya jika tidak berpose dengan latar belakang laut dan bangunan-bangunan yang tersusun di sana.
Tak lama kami berada di sana karena tujuan kami adalah ke Benteng Anoi Itam.
Tiba di Desa Anoe Itam, kami langsung diarahkan ke benteng peninggalan Jepang tersebut. Ada beberapa benteng yang sekilas tampak seperti bunker. Konon katanya di sinilah tentara Jepang menyimpan amunisi persenjataan selama terjadinya Perang Dunia II. Beberapa benteng tampak masih kokoh bangunannya. Bahkan di atas bukit terdapat sebuah benteng yang dilengkapi dengan meriam sepanjang tiga meter. Mungkin dari atas sinilah serdadu Jepang bisa mengintai musuh yang datang dari arah laut.
![]() |
| Meriam peninggalan serdadu Jepang dari atas bukit Benteng Anoi Itam. |
Pemandangan dari atas benteng ini juga tak kalah menakjubkannya. Mata kita dimanjakan dengan birunya warna laut dan langit pada satu garis horizon yang lurus. Kami memanfaatkan kesempatan dengan menjelajahi area benteng. Bahkan ada sebuah benteng atau bunker yang tertutup dengan tanah yang di atasnya berdiri kokoh pepohonan dengan akar yang melilit sepanjang pematang.
Lanskap wisata benteng ini sudah dipoles sedemikian rupa. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah ke sini, saya tidak ingat tahun berapa. Dulu belum ada tulisan "Benteng Anoi Itam" di bawah bukit ini, tapi sekarang tulisan itu sudah ada. Jadi bertambah lagi spot bagi pengunjung untuk berfoto.
![]() |
| PIC Jelajah Ilmu sedang berpose dalam area Benteng Anoi Itam. |
Selepas dari benteng, kami dibebaskan untuk pergi ke mana saja.
Mie Sedap Sabang
Karena perut kami sepakat untuk minta diisi, kami meminta sopir yang bernama Romi untuk mengantarkan kami ke tempat kuliner khas di Sabang.
"Sudah pernah makan Mie Sedap?" tanya Romi sambil menyetir.
"Belum, Bang," kata salah seorang PIC.
"Mie Sedap yang makannya di gelas, ya?" celetuk PIC lainnya.
Kami tertawa dengan jawaban tersebut, begitu juga dengan sopir kami.
"Bukan, Mie Sedap ini ya Mie Sedap. Itu nama kedainya. Bukan mi instan yang bermerek Sedaap." Penjelasan itu setidaknya telah menjawab rasa penasaran dari beberapa PIC yang belum pernah mencicipinya.
Kami tiba juga di kedai mi tersebut. Kedai Mie Sedap ini memang sangat terkenal di Sabang. Mi-nya diolah sendiri dengan taburan ikan yang dipotong-potong kecil. Ada dua varian mi yang bisa kita nikmati, mi kuah atau rebus dan mi goreng.
Saya sudah pernah makan mi kuah, kali ini saya memesan mi goreng. Untuk harganya terjangkau. Untuk ukuran pancung harganya Rp. 12.000; ukuran penuh Rp 15.000; dan ukuran jumbo Rp. 20.000. Saya memesan yang di tengah, yakni mi ukuran penuh.
![]() |
| Seporsi mi goreng di Mie Sedap Sabang. Ini adalah salah satu kuliner yang kerap diburu oleh wisatawan. |
Kami menikmati dengan lahapnya meskipun ada beberapa PIC yang tidak menghabiskannya. Saya tidak tahu alasannya. Setelah makan mi di Mie Sedap, kami melaksanakan salat Magrib berjamaah di Masjid Agung Babussalam. Jamaah di masjid ini sangat ramai karena berada di pusat kota.
Selanjutnya jadwal makan malam sudah tiba. Karena kami sudah kenyang dengan mi, kami meminta jatah makan malam kami untuk dibungkus. Kami bisa makan di penginapan tanpa khawatir terlambat untuk mengikuti pembukaan bimtek yang dijadwalkan sekira pukul delapan malam.
Pembukaan Bimtek Jelajah Ilmu
Pukul delapan malam lewat, peserta dari PIC dan kepala madrasah memasuki ruangan aula. Pejabat dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh sudah tiba. Acara dimulai dengan seremonial pembacaan ayat suci Al-Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars Kementerian Agama, dan sambutan yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Sabang, Samsul Bahri.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat datang di Sabang kepada seluruh peserta dan berharap agar bisa kembali ke sini pada kegiatan-kegiatan yang lainnya. Sebagai putera daerah asli Sabang, ia bahkan menganjurkan agar kegiatan Jelajah Ilmu bisa terus dilakukan di Sabang dengan memilih penginapan di tempat lain, seperti di Iboih, yang menjadi salah satu andalan wisata di Sabang.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Kabid Penmad Kanwil Aceh, Khairul Azhar. Ia menekankan penggunaan digital dalam pembelajaran sangat penting. Apalagi ke depannya, anak-anak akan menghadapi tantangan global yang lebih berat. Penguasaan teknologi digital merupakan modal bagi anak-anak masa depan untuk bisa bertahan dalam gerusan zaman yang serba maju.
![]() |
| Pembukaan bimtek Jelajah Ilmu 29 April - 1 Mei 2026. Kegiatan ini dibuka oleh Kabid Penmad Kanwil Aceh, Khairul Azhar. |
Kegiatan selanjutnya adalah penyampaian fitur-fitur terbaru Jelajah Ilmu yang disampaikan oleh Didit. Acer sebagai salah satu brand internasional kini tidak hanya membuat laptop atau komputer. Acer kini juga merambah industri untuk peralatan rumah tangga dan lainnya. Sedangkan Acer melalui platform Jelajah Ilmu juga akan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku, begita kata Didit.
Acara yang berlangsung sederhana ini berakhir sekira pukul sepuluh malam. Beberapa peserta tampak kelelahan dan menguap. Begitu juga dengan saya. Memilih untuk tidur setelah acara selesai.
Monumen Nol Kilometer
Hari kedua menjadi hari yang begitu melelahkan dan harus mempersiapkan fisik dengan kuat. Rombongan kami mengambil tujuan ke Monumen Nol Kilometer letaknya agak jauh dari pusat kota.
Monumen Nol Kilometer menjadi simbol bahwa Indonesia bagian barat dimulai dari sini. Artinya inilah titik nol dari negara yang terdiri dari ribuan pulau dengan keindahan alam yang memukau. Di sini kita disuguhkan dengan panorama alam yang masih alami. Pemandangan laut yang tak henti-hentinya kita menggumamkan puji syukur.
Namun sayangnya, Monumen Nol Kilometer di beberapa bagiannya sudah lapuk dan berkarat. Potongan besi kecil kapan saja bisa jatuh dari rangkaian monumen itu. Warna-warnanya sudah memudar, catnya mulai terkelupas. Kita berharap pemerintah setempat dapat melakukan peremajaann terhadap monumen tersebut.
![]() |
| Lanskap Monumen Nol Kilometer yang merupakan titik nol dari bagian barat Indonesia. |
Mari kita abaikan dulu struktur lanskap monumen tersebut. Untuk menegaskan bahwa kita pernah berada di titik nol dari Indonesia ini, tak lupa setiap pengunjung mengabadikan momen di sini. Foto-foto mulai tersimpan di setiap hp pribadi. Suatu saat, foto-foto tersebut akan mengingatkan Anda bahwa kenangan bukan saja persoalan berada di tempat yang pernah dikunjungi, melainkan ada rasa yang tak bisa diulang kembali.
Gua Sarang
Dari Nol Kilometer, kami menuju ke Gua Sarang. Dulu saya pernah mengunjungi Gua Sarang. Lagi-lagi saya lupa di tahun berapa. Saat itu, saya dan keluarga menjelajahinya hingga ke bibir gua. Kami harus melewati jalan berbatu yang terjal dan licin. Harus hati-hati agar tidak jatuh atau terperosok. Dengan susah payah akhirnya kami bisa mencapai gua tersebut.
Sekarang, jalan setapak berbatu itu sudah tidak ada lagi. Ditumbuhi semak dan mungkin air laut yang sudah mengikisnya. Untuk bisa menuju ke Gua Sarang harus menaiki boat dengan biaya sewa Rp. 250.000 sekali jalan pulang dan pergi.
![]() |
| Panorama laut dari Gua Sarang. |
Karena keterbatasan waktu, kami tidak menuju ke lokasi Gua Sarang. Kami hanya melepaskan penat sejenak, apalagi kami harus menuruni tangga untuk bisa sampai ke tepi pantai.
Pulau Rubiah
Destinasi selanjutnya adalah menuju Pulau Rubiah dari Pantai Iboih. Untuk menuju ke sana harus menyewa boat seharga Rp. 250.000 per 12 orang. Artinya boat bisa menampung sebanyak 12 orang. Sewa boat berlaku untuk pulang dan pergi.
Sepanjang perjalanan menuju ke Pulau Rubiah, kami bisa menyaksikan akuarium laut. Kami hanya melihat ke bawah melalui boat. Beberapa ikan di karang terlihat cantik dan indah. Tapi saat kami di sana, ikannya tak banyak yang kelihatan. Mungkin sedang istirahat siang, seloroh salah satu PIC dari rombongan kami.
Tiba di Pulau Rubiah, kami dihidangkan makan siang dengan menu ikan bakar. Kami makan dengan lahap karena aktifitas fisik yang meningkat dan melelahkan di hari kedua. Cuaca saat itu juga begitu terik dan panas. Sedikit pun angin tidak terasa. Bahkan pepohonan seperti tegak berdiri. Enggan bergoyang meskipun hanya sedikit.
![]() |
| Tulisan "Pulau Rubiah" yang sudah mulai memudar. |
Usai makan siang, kami melaksanakan ritual salat wajib dan beristirahat. Sebagian dari kami ada yang berenang dan melakukan snorkeling. Sementara itu, saya memilih untuk beristirahat sejenak di dekat Makam Ummi Sarah Rubiah, makam isteri dari Teungku Ibrahim atau Teungku Iboih, salah satu ulama setempat.
Selain terdapat makam bersejarah, di sini juga terdapat pusat karantina haji masa lalu. Saya bersama beberapa PIC menuju ke sana untuk mencari tahu bagaimana bentuk bangunan tersebut. Tapi sayangnya, setiba di sana kami hanya menemukan bangunan kosong yang tidak terawat. Beberapa bagian bangunan sudah hancur parah, seperti atap dan plafonnya.
![]() |
| Salah satu bangunan Pusat Karantina Haji masa dulu. Gedungnya sangat memprihatinkan dan tidak terawat dengan baik. |
Padahal di sini dulu jamaah haji pernah singgah untuk dikarantina terlebih dahulu setelah kembali dari tanah Mekkah. Bangunan masa kolonial ini sangat memprihatinkan. Semoga pemerintah dapat memperbaiki bangunan ini karena ia merupakan saksi sejarah dari bangsa ini.
Usai dari Pulau Rubiah, kami berkesempatan untuk berbelanja oleh-oleh. Adapun ciri khas yang tak terbantahkan dari oleh-oleh Sabang adalah kue bakpia dan dodol aneka rasa.
Saya membeli beberapa kue bakpia dan dodol. Saya membayangkan wajah gembira anak-anak di rumah saat ayahnya membawa pulang oleh-oleh ini. Mereka sangat menyukainya. Untuk ukuran standar, kue ini harganya hanya Rp. 18.000 per kotak. Begitu juga dengan dodol, harga per kotaknya Rp. 18.000.
Penutupan Bimtek
Usai makan malam, acara penutupan bimtek dihadiri oleh Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari. Ia menyampaikan terima kasih kepada pihak Acer yang telah menggagas platform Jelajah Ilmu sebagai platform pembelajaran berbasis digital. Selama ini kehadiran Jelajah Ilmu membantu perkembangan siswa di madrasah sehingga anak-anak tidak lagi tertinggal dalam penggunaan teknologi.
Pembelajaran digital juga bagian dari bentuk dukungan untuk program Asta Cita dan Asta Protas. Pada akhirnya, digitalisasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari penunjang masa depan anak-anak bangsa.
![]() |
| Foto bersama dalam acara penutupan bimtek Jelajah Ilmu bersama Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari. |
Di sela-sela penutupan acara, panitia menyediakan doorprize yang diundi secara acak. Alhamdulillah, saya mendapatkan doorprize tersebut, yakni berupa satu unit kalkulator merek Canon.
Acara penutupan pun berakhir dengan kebahagiaan.










