A7czWFwOmeHFwzuAIJFW6XqsE4atL60bOxnpsG2F

Puspa


Langkahku membeku, terpaku di atas tanah yang getar oleh hantaman paku bumi. Gesekan gerinda terdengar seperti dengungan lebah yang marah. Kerangka beton setinggi lima lantai menjulang megah di depanku. Mengejek gedung-gedung kusam berlantai dua di kota yang berjuluk Petro Dollar.

Pintu gerbang dari susunan seng terbuka perlahan. Truk pasir menderu masuk. Di sana, keripuhan pekerja seumpama koloni semut yang baur dalam pesta gula. Sedangkan dari lantai atas, seorang pekerja kena tengking tanpa ampun. Ia menunduk, pasrah menatap ubin yang retak sambil meremas ujung bajunya. 

Pekik klakson bertalun-talun membuyarkan lamunanku. Sebuah sedan berusaha mendahului truk yang merambat pelan, diikuti iring-iringan sepeda motor. Jalanan ini memang tak pernah senyap. Pantas saja jalan ini dinamai Sukaramai. 

“Awas! Minggir!” sebuah teriakan penuh kelelahan entah dari mana asalnya.

Langkahku tersentak ke belakang. Pikap pembawa semen menderap gesit. Lalu berhenti tak jauh dari truk pasir.

Saat pasir dimuntahkan dari bak truk, debu-debu halus beterbangan ke udara, melumat serbuk-serbuk semen yang diturunkan dari pikap. Keramaian di sekitar bangunan setengah jadi itu melempar ingatanku ke masa tiga puluh tahun silam. 

Aku memarkirkan sepeda di seberang bioskop. Di depan loket karcis masuk, muda-mudi mengantre sembari bercengkerama. Sedangkan di dalam loket, lagu India terdengar bertalu-talu dengan volume tinggi. Antrean semakin berkurang seiring jam di dinding menunjukkan pukul dua. Film drama percintaan yang dibintangi Shah Rukh Khan, Deewana akan segera tayang. Sepasang muda-mudi yang baru tiba dengan tergopoh-gopoh membeli dua karcis yang masih tersisa.

Seorang laki-laki berkumis melengkung seperti bulan sabit berjaga-jaga di depan pintu masuk. Sebilah rotan tak pernah lepas dari tangannya. Berbalut busana warna khaki, laki-laki bertubuh dempak itu hampir mirip seperti tampang polisi India. Ia akan mencegat setiap anak-anak yang belum disunat. 

Dari seberang jalan aku selalu takjub memandang poster-poster raksasa. Setiap ada film terbaru dengan mudah kuingat nama pemerannya. Seorang gadis berusia tiga belas tahun duduk di samping lapak koran. Ia memiliki rambut yang lurus dan panjang dengan sisipan poni yang menawan. Gadis itu adalah sahabatku, kami satu kelas di sebuah SMP favorit.

“Puspa!”

Yang dipanggil menoleh. Menyunggingkan senyum. Memamerkan barisan gigi yang rapi. 

“Kenapa lama sekali?” Dia sudah menungguku sejak tadi.

Setelah meletakkan majalah Bobo edisi lama, Puspa menarik lenganku. Kami memutari gedung bioskop dan masuk melalui jendela kecil. Seakan hafal celah menuju ke lantai atas, Puspa berkali-kali menegaskan bahwa bioskop ini adalah rumah kedua baginya. 

“Jangan takut. Tak ada seorang pun bisa menemukan kita di sini,” Puspa mendesah sembari mencari posisi yang nyaman untuk menonton.

Gumam muda-mudi terhenti saat layar raksasa menyala. Suara gulungan rol film dari ruang proyeksi seumpama jangkrik. Pendar cahaya kebiru-biruan menyiram wajah penonton. Mata kami ikut larut dalam setiap adegan film. Sesekali kepala bergoyang saat lagu India terdengar. Begitu merdu, begitu syahdu, begitu rindu.

Kerinduan itu tiba-tiba menyesap seperti sesapan kopi. Aku memesan secangkir kopi di sebelah gedung berlantai lima itu. Kedai kopi selalu menjadi tempat yang hangat bagi seorang perindu. Aroma kopi masih seperti dulu. Kopi kenangan yang tak lekang oleh gerusan waktu. 

“Kalau saja ayahku tahu, tamatlah kita,” Puspa kembali mendesah usai film tamat ketika kedua insan dalam film saling berciuman. Aku mengangguk tanda setuju sambil menutup mata dengan telapak tangan, tapi jari telunjuk dan tengah sengaja kuberi sela. Dia mencubit pinggangku. Cubitan yang sedikit nakal.

“Ayo, kita beli jajanan!”

Kami turun dari ruang gelap itu. Setelah film usai, Puspa mentraktirku es potong dan mie caluek, mie lidi yang ditumis dengan bumbu rempah.

“Ayahku bilang, minggu depan ada film baru,” ujar Puspa sambil melahap mie caluek.

“Sampai kapan kita menyelinap seperti ini? Aku takut ketahuan,” gumamku tak menggubris kata-katanya sambil melihat ke arah “polisi India” itu.

Pak Ibrahim, ayah Puspa tentu akan murka seandainya tahu kami menyelinap diam-diam. Sebagai pemilik bioskop, ia tidak akan pernah mengizinkan anak-anak berada di sana. Bahkan putrinya sendiri pun ia larang karena banyak adegan dewasa tanpa sensor.

Namun ketika tujuh belas Agustus, Pak Ibrahim berbaik hati dengan mengirimkan karcis percuma ke sekolah-sekolah. Ia memberi kesempatan kepada anak-anak untuk merasakan pengalaman indah menonton film Tjoet Nja’ Dhien di bioskop. Bukan untuk sekadar mengingat jasa para pahlawan saja, tapi untuk mengajak mereka mencerna makna perjuangan dalam bentuk hiburan.

Bioskop yang dinamai dengan nama anaknya menjadi kebanggaan bagi warga kota. Bahkan setiap akhir pekan, potongan karcis terakhir ludes tak bersisa, sehingga bioskop terpaksa buka hingga penghujung malam. Para pekerja dari ladang gas dan minyak bumi juga acap menyesaki bioskop. 

Impianku untuk bisa menonton sendiri film di bioskop hingga umurku tujuh belas tahun kandas. Pada suatu sore. Jalanan Sukaramai yang biasanya ramai mendadak sepi. Puluhan tentara turun dari truk Reo. Mereka menenteng senjata dalam posisi siap bidik. Derap langkah sepatu lars berhasil membuat kepanikan pengguna jalan. Ada tanya yang tak terjawab pada raut wajah mereka.

“Ayo berpencar!” seru salah seorang tentara. Barangkali dia adalah pemimpin regu tentara itu.

Tak lama kemudian, suara tembakan terdengar begitu nyaring. Aku dan Puspa tersentak di ruang gelap gedung bioskop. Kami saling berpegang tangan dengan erat. Beberapa penonton ikut tersentak, utamanya gadis-gadis muda. Suara tembakan begitu dekat seakan-akan desingan peluru melesat di atas kepala. Beberapa pengunjung berusaha untuk keluar, tapi pintu dikunci rapat oleh “polisi India” yang mendelikkan mata kepada mereka.

“Diam di tempat! Jangan ada yang keluar dulu!” desisnya tapi dengan intonasi suara yang tegas.

Suara tembakan berlangsung selama setengah jam. Ketika kami keluar dari bioskop, puluhan tentara berseragam loreng masih berjaga-jaga. Darah segar basah tumpah di jalan aspal. Aku tidak tahu darah siapa itu. Tapi dari bisik-bisik warga, itu adalah darah tentara pemberontak yang turun ke kota untuk membuat kekacauan.

Setelah kejadian itu, suasana kota semakin cekam. Setiap sudut jalan dipenuhi oleh tentara siap tempur. Mata mereka awas. Berkilat-kilat setiap melihat orang yang lewat. Beberapa kali terjadi kontak senjata di sana. Gedung bioskop semakin lama semakin jarang dikunjungi orang. Tentara pemberontak kerap menebar teror. Mereka mengirimkan pesan lewat peluru-peluru bahwa kemerdekaan harus tegak, syariat Islam harus kokoh, dan musuh-musuh harus enyah.

Suatu malam, Pak Ibrahim diculik oleh tentara pemberontak. Ia dibawa ke gunung. Diinterogasi. Diintimidasi. Dan dilepas keesokan harinya dalam keadaan tercenung. Beberapa hari kemudian, Pak Ibrahim dibawa oleh tentara ke markas besar. Ia ditanya-tanyai. Dicari-cari kesalahan. Diteror dengan kesalahan yang tak dilakukannya. Lalu dibawa pulang dalam keadaan setengah gila.

Akhirnya, keluarga Puspa memutuskan untuk pindah kota dan mengungsi ke Medan. Lalu, gerbang bioskop tertutup rapat-rapat dengan rantai besi yang melilit kokoh.

Puspa, kita berpisah tanpa kata-kata. Akankah kelak kita bertemu kembali? Batinku setelah mengetahui Puspa dan keluarganya turut eksodus.

Pada suatu sore aku mengayuh sepeda ke bioskop. Berharap Puspa sedang menyelami petualangan Oki dan Nirmala di lapak koran. Namun Puspa tak pernah terlihat. Yang ada hanya lapak koran yang berpindah posisi tepat di depan pintu masuk bioskop.

“Pak, apakah Puspa akan kembali ke Aceh?” Pelapak koran melipat koran yang dibacanya. Sepasang mata menyembul dari balik kacamata.

“Puspa tak mungkin balik lagi.”

“Kenapa, Pak?”

“Tak boleh ada bioskop.”

“Kenapa begitu, Pak?”

“Haram! Dianggap sarang maksiat dan bertentangan dengan syariat,” gumam pelapak koran itu, lalu membuka kembali lembaran koran yang dibacanya.

Bertahun-tahun aku kehilangan Puspa. Setiap aku melewati bioskop itu, bingkai ingatan masa lalu tersibak. Tapi lama-lama kian memudar. Hingga aku merangkak jauh dari kota itu. Melanjutkan hidup yang terasa hampa ke ibukota provinsi, tanpa bioskop, tanpa ingar-bingar, seperti negeri sunyi.

Hari ini, ketika aku menapaki kembali gedung-gedung setengah tua di Jalan Sukaramai, sisa-sisa kenangan Puspa yang tertinggal telah terhapus. Kopi yang kusesap mulai dingin dan tinggal ampasnya. Dengan langkah gontai aku menuju ke meja kasir dan membayar pesananku.

“Maaf, Dek! Bioskop Puspa itu kenapa dirobohkan ya?” sembari menunggu uang kembalian, aku menanti jawaban dari kasir muda itu.

“Katanya di situ akan dibangun hotel, Pak,” jawabnya seiring dengan penyerahan uang kembalian, lalu aku keluar dari kedai kopi itu.

Bersamaan dengan langkahku yang pelan, sebuah mobil mewah berhenti di depan gedung itu. Seorang perempuan muda keluar dari mobil. Selendang berwarna hitam yang dipakainya tidak bisa menutup sempurna seluruh rambut panjang perempuan itu. Poni yang menawan tersembul dari sana. Wajah itu begitu akrab bagiku.

“Puspa!” Tapi lidahku tercekat. Suara yang keluar dari mulutku hanya desisan angin beraroma kopi.

Perempuan itu dengan gegas memasuki area proyek. Pintu susunan seng terbuka. Aku berusaha mengintip dengan ekor mata, tapi gagal. Aku menunggu di depan gerbang bangunan itu.

Beberapa menit kemudian, perempuan muda itu keluar. 

“Puspa!”

Yang dipanggil menoleh. Menyunggingkan senyum. Memamerkan barisan gigi yang rapi. Wajahnya persis seperti Puspa yang kukenal dulu. Namun tatapannya begitu berbeda, begitu asing. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang baur bersama kendaraan lain.

“Dia bukan Puspa, Pak! Tapi anaknya,” celetuk seorang pekerja yang mengantarkan perempuan muda itu. Mulutku memaksa senyum. Kecut.

"Hotel apa yang akan dibangun di sini?" tanyaku, meski hatiku mulai menerka jawabannya. 

"Hotel Puspa."


Posting Komentar