A7czWFwOmeHFwzuAIJFW6XqsE4atL60bOxnpsG2F

Menelusuri Setiap Lorong Museum Tsunami

Lanskap Museum Tsunami berdiri kokoh dan megah di pinggiran jalan menuju ke Pelabuhan Ulee Lheue. Lanskap kota ini seperti album yang menyimpan memori kelam Aceh di masa silam. Sejarah mencatat bahwa daerah ini pernah hancur akibat bencana alam yang sangat merusak. Saya sendiri menyaksikan betapa hebatnya musibah tsunami setelah guncangan gempa yang maha dahsyat. Seperti memasuki dunia apokaliptik, masa-masa penuh ketegangan menyelimuti wajah-wajah yang masih tersisa. Dengan sedikit harapan dan semangat untuk terus bertahan, para korban bencana mencari apa yang masih tersisa, mencari tubuh-tubuh yang mereka kenali, mencari tempat untuk bertahan.

Dunia tidak tinggal diam. Bantuan segera datang, tanpa menunggu titah. Atas nama hati nurani, mereka berduyun-duyun membantu, meringankan beban yang dirasakan oleh Aceh. Tak kenal bangsa, tak kenal agama, warna kulit, dan bahasa; semua memiliki tujuan yang sama. 

Peristiwa apokaliptik itu terekam dengan baik di Museum Tsunami berkat dorongan mata batin yang tajam, lalu membingkainya dalam mata lensa yang presisi. 

Sebelum memasuki gedung utama museum, kita akan disuguhkan dengan foto-foto pasca bencana. Kita bisa menyaksikan bagaimana wajah-wajah penuh harap dari korban bencana saat menantikan uluran tangan dari dunia. Beberapa foto juga merekam dengan baik puing-puing reruntuhan dan gambar para relawan dari seluruh dunia untuk membantu korban bencana.

Sebelum memasuki gedung museum, pengunjung diarahkan untuk membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuk sangat bervariasi, mulai dari Rp 3.000 hingga Rp. 20.000 per orang. Berikut rincian harga tiket masuk Museum Tsunami:

  • Anak-anak dan pelajar Rp. 3.000
  • Umum/dewasa dan mahasiswa Rp 5.000
  • Turis mancanegara Rp 20.000
  • Parkir motor Rp. 2.000
  • Parkir mobil Rp 5.000

Museum Tsunami buka mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB. Jam istirahat siang biasanya mulai jam 12.00 WIB. Jadi, Anda jangan masuk ke museum pada jam tersebut karena tidak akan dilayani atau tutup untuk istirahat, shalat, dan makan.

Lorong Tsunami

Setelah mendapatkan tiket, saya memasuki lorong tsunami. Saat langkah pertama memasuki lorong tersebut, suara gemuruh menggema di setiap pantulan dinding. Suara ini seakan membawa kita pada memori kelam 26 Desember 2004. Lorong tsunami dibuat sedemikian rupa, gelap, dan di kiri kanan dinding akan terdengar percikan air. 

Lorong tsunami dengan tampilan visual dan efek yang menegangkan.

Lorong tsunami sengaja didesain dengan tinggi yang sama seperti ombak tsunami yang menggulung daratan Aceh, yakni 30 meter. Sepanjang lorong tsunami sesekali terdengar efek-efek suara yang menakutkan. Awalnya saya sempat merinding seperti mendengar rintihan kesakitan yang mendalam.

Lorong Renungan

Setelah dari lorong tsunami, kita diajak untuk memasuki lorong renungan. Dalam ruangan ini kita akan disuguhkan media berbentuk video animasi dan efek suara untuk mengingatkan bagaimana tsunami di Aceh terjadi. 

Lorong Renungan menampilkan 26 media panel digital sebagai pengingat dan renungan bahwa di balik setiap musibah, ada hikmah yang bisa dipetik.

Ada sebanyak 26 panel media sebagai cerminan tanggal terjadinya tsunami di Aceh. Dalam lorong renungan ini kita seakan-akan berada di dalam dasar laut. Kedua sisi dinding yang dilapisi kaca memperlihatkan betapa luasnya lautan. Layaknya berada di dalam laut, pencahayaannya pun dibuat sedemikian rupa. Remang-remang dan agak redup. Hanya seberkas cahaya putih yang mencerminkan sinar matahari yang menembus permukaan air.  

Di lorong renungan, beberapa pengunjung memanfaatkan media panel sebagai latar belakang foto-foto mereka. Meskipun gelap dan pencahayaannya kurang, berkat teknologi kamera HP, foto yang gelap bisa menjadi terang otomatis, seperti foto yang saya terakan di sini.

Lorong Kebingungan dan Sumur Doa

Museum Tsunami Aceh yang dirancang berlorong-lorong berusaha untuk menyampaikan pesan kepada setiap pengunjung bahwa tsunami bukan hanya sekadar bencana alam, melainkan sebagai pengingat dan menjadi renungan bagi manusia. 

Simpang antara Lorong Kebingungan dan Sumur Doa.

Di dalam Lorong Kebingungan, kita disuguhkan dengan kisah-kisah reflektif para penyintas. Kisah-kisah yang penuh perjuangan, berusaha membangkitkan emosi kita, dan menarik simpati kita saat mendengar begitu banyak kisah tentang bagaimana para penyintas ini menghadapi tsunami. Mereka terombang-ambing bersama reruntuhan, kehilangan orang-orang yang mereka cintai, kehilangan harta benda yang paling berharga, bahkan ada juga yang kehilangan salah satu dari anggota tubuh mereka.

Mereka masih hidup dan melanjutkan hidup dengan trauma mendelam yang masih membekas dalam benak mereka. Melalui lorong inilah kita sebenarnya diajak untuk ikut merasakan perjalanan seperti yang pernah dialami masyarakat korban bencana.

Di samping Lorong Kebingungan terdapat ruangan yang dinamakan dengan Sumur Doa. Ruangan berbentuk bulat silinder hampir mirip dengan sumur ini bernuansa gelap. Saat kita berdiri di tengah dan menengadahkan kepala ke atas, kita akan melihat sebuah lubang bercahaya yang bertuliskan "ALLAH". 

Salah seorang pengunjung sedang membaca nama-nama korban tsunami.

Ruangan ini juga menjadi simbol dari kuburan massal, di mana di dinding Sumur Doa terdapat nama-nama para korban tsunami yang dinyatakan meninggal dunia. Maka disarankan untuk mengirimkan doa kepada para korban bencana gempa bumi dan tsunami saat berada di dalam ruangan tersebut.

Jembatan Perdamaian

Keluar dari Sumur Doa melalui Lorong Kebingungan, kita akan dibawa ke lantai dua Museum Tsunami melalui Jembatan Perdamaian. Di jembatan ini, kita bisa melihat simbol-simbol perdamaian melalui bantuan yang dibawa oleh negara-negara yang telah membantu dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami. Kata-kata damai ditulis dalam beragam bahasa dunia.

Selain itu, Jembatan Perdamaian juga menjadi simbol bagi berakhirnya konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia. Perundingan perdamaian kedua belah pihak atau dikenal dengan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 melahirkan butir-butir penting bagi kemaslahatan rakyat. Momen-momen penting tersebut juga dapat Anda lihat di Museum Tsunami. 

Pengunjungi melewati Jembatan Perdamaian menuju ke tingkat dua Museum Tsunami.

Peristiwa bersejarah tersebut tidak terlepas dari bencana tsunami yang melanda Aceh sehingga meluluhkan hati kedua belah pihak yang bersengketa. Dengan lahirnya MoU Helsinki, Aceh mendapatkan perhatian lebih dari Pemerintah Pusat dengan beberapa hak keistimewaan, seperti lahirnya partai lokal sebagai mesin penggerak politik dan kucuran dana otonomi khusus untuk pembangunan dan kemakmuran rakyat Aceh.

Lorong-Lorong Lainnya

Di lantai kedua Museum Tsunami, kita bisa melihat beberapa galeri foto yang menampilkan kehancuran akibat bencana tersebut. Potret masyarakat pasca bencana yang mulai bangkit dari keterpurukan, aliran bantuan dari negara asing, sukarelawan yang bahu-membahu membantu rekonstruksi, semua momen tersebut terekam dengan baik dalam bingkai fotografi.

Pengunjung juga dapat menonton video singkat dalam bioskop mini yang menceritakan tentang bagaimana masyarakat panik dan berlari saat tsunami menerjang. Video tersebut juga mempertontonkan keadaan Aceh pasca tsunami dan semangat hidup masyarakat untuk berjuang dan bertahan.

Di sini kita juga bisa melihat beberapa barang yang digulung tsunami dengan lumpur pekatnya masih menempel. Barang-barang tersebut ikut menjadi saksi bahwa bencana tsunami melahap apa saja yang dilaluinya; baik benda-benda yang berdiri kokoh maupun benda-benda kecil yang rapuh.

Di lantai ketiga kita bisa melihat potret-potret perdamaian Aceh dalam foto-foto yang bersejarah. Foto-foto yang menampilkan proses penandatanganan MoU Helsinki, pemusnahan senjata, dan kembalinya mantan pejuang ke dalam pangkuan ibu pertiwi.

Begitulah tur singkat melewati lorong-lorong dalam Museum Tsunami Aceh.

Posting Komentar