Membaca karya-karya Jorge Luis Borges tidak akan bosan-bosannya. Setiap kata yang ditulisnya tak ubah seperti permainan bahasa dan kadang menabrak imajinasi. Harus diakui bahwa imajinasi Borges jauh lebih maju di zamannya. Borges adalah pembuka jalan bagi suatu generasi, ia merenovasi bahasa fiksi yang kaku. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh J. M. Coetzee yang melabeli Borges sebagai pembuka jalan bagi suatu generasi dari para novelis Spanyol-Amerika. Maka lahirlah nama-nama kawakan dalam sastra Amerika Latin seperti Gabriel Garcia Marquez, Carlos Fuentes, Jose Danoso, dan Mario Vargas Llosa. Mereka mengakui bahwa Borges memiliki andil dalam karya mereka.
Struktur dalam karya Borges kadang di luar teori-teori sastra yang pernah diajarkan. Kisah-kisahnya dibuat berlapis dan kerap membingungkan. Namun, seperti kata John Updike, Borges dengan segala kemungkinan memasuki ketakterbatasan serta mendistorsi imajinasinya sendiri. Ia mengangkat fiksi telalu jauh dari muka bumi, tempat sebagian besar novel dan cerita pendek masih menjejakkan kakinya.
Mario Vargas Llosa menganggap Borges adalah bagian penting dalam sastra berbahasa Spanyol sejak era Cervantes. Llosa menyayangkan sikap Borges yang menolak anugerah Nobel Sastra dan menganggap itu sebuah keputusan butuk sama seperti yang dilakukan oleh Joyce, Proust, dan Kafka.
Setiap bahasa yang keluar dari tinta Borges adalah kebaruan, unik, dan tidak klise. Membacanya seakan mengantarkan kita dalam mimpi yang berputar-putar mencari jalan keluar. Selanjutnya gaya-gaya seperti ini yang mewarnai kisah-kisah dari Amerika Latin. Carlos Fuentes menganggap bahwa tanpa Borges, novel Amerika Latin modern sama sekali takkan pernah ada.
Borges menceritakan tentang Buenos Aires dan sekeping koin. Dari keping koin itu, imajinasi liarnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia mencoba untuk menguraikan sekeping koin dan ihwal Zahir. Di tangan Borges, Zahir melanglang buana di hampir seluruh dunia hanya untuk menemukan hakikat dari Zahir itu sendiri sebelum akhirnya berakhir di sebuah bangku di Plaza Garay (halaman 20).
Borges kerap memasukkan tokoh-tokoh nyata dalam fiksinya. Tokoh itu seperti hidup dalam cerita itu, tapi sebenarnya ia tidak benar-benar pernah terlibat dalam kisah itu. Kadang sulit untuk membedakan antara fiksi dan nyata. Itulah kepiwaian Borges saat ia menulis, "Aku merasa lebih mudah menerima bahwa terdapat suatu kesalahan pada apa yang telah diungkapkan oleh ibn Qutaybah, atau oleh para penyalinnya," Averroes berkata (halaman 27).
Sebagai pemuja Cervantes dan Don Quixote, ia tidak lupa melibatkan mereka dalam kisahnya. Ia menulis: Merasa jenuh dengan desa tempat tinggalnya di Spanyol, seorang prajurit tua mencari hiburan di wilayah Ariosto yang begitu luas, di lembah rembulan di mana ia melewatkan sebagian besar waktunya untuk bermimpi, dan di tempat itu pula Muhammad, sosok idola yang sangat dikaguminya, pernah diculik di dekat Montalban (halaman 118).
Selain kisah Zahir, dalam buku Parabel Cervantes dan Don Quixote, kita akan menemukan kisah-kisah unik lainnya, baik berupa kisah panjang maupun kisah pendek. Itulah menariknya kisah Borges karena yang panjang begitu membuaikan dan yang pendek begitu melenakan. Inilah beberapa kisah itu:
- Zahir
- Pencarian Averroes
- Aleph
- Kitab Pasir
- Yang Lain
- Simurgh
- Bahamut
- Burak
- Haniel, Kafziel, Azriel, dan Aniel
- Uroboros
- Legenda
- Cermin Terselubung
- Harimau Impian
- Parabel Cervantes dan Don Quixote
- Alur
- Suatu Masalah
- Sekuntum Mawar Kuning
- Inferno, I, 32
- Argumentum Ornithologicum
- Delia Elena San Marco
Data Buku Parabel Cervantes dan Don Quixote
Penulis: Jorge Luis Borges
Penerjemah: Lutfi Mardiansyah
Penerbit: Gambang Buku Budaya
Tahun Terbit: Cetakan Kedua, Juni 2016
Jumlah Halaman: v + 131 (136 halaman)
ISBN: 978-602-6776-17-4
